50 Raja Nusantara Akan Hadiri Sidang Mufakat Rajo Bengkulu

November 27 01:11 2017 Print This Article

Di wilayah ini berkembang budaya Tabut yang setiap tahun dilakukan prosesi ritual mengenang pertempuran di Padang Karbala yang menewaskan cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein.

Rajasultan.com, Bengkulu – Sebanyak 50 raja mewakili kerajaan-kerajaan di Nusantara, akan menghadiri Sidang Mufakat Rajo Penghulu Bengkulu pada Selasa, 28 November mendatang.

Para-raja yang tergabung dalam Majelis Agung Raja Sultan (MARS) Indonesia ini akan disambut secara adat dalam prosesi menyambut “tamu menda” di Balai Raya Semarak Bengkulu.

Ketua Badan Musyawarah Adat Provinsi Bengkulu S Effendi MS mengatakan, agenda utama Sidang Mufakat Rajo Penghulu Bengkulu tersebut adalah ikrar bersama para raja Nusantara dengan menunjuk Bengkulu sebagai Kota Betuah Beradab.

Akar budaya Melayu yang tumbuh dan berkembang di Bengkulu sebagai bagian dari sejarah Kerajaan Sriwijaya akan dikukuhkan dalam sidang majelis agung tersebut.

“Di bawah kekuasaan Sriwijaya, Bengkulu memiliki 12 kerajaan kecil dengan keragaman adat budaya, tetapi adat Melayu menjadi akarnya, ini yang akan kami kukuhkan,” ucap Effendi di Bengkulu, Minggu (26/11/2017).

Setelah pembacaan ikrar Kota Betuah Beradab, dilakukan pengangkatan Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, sebagai Majelis Agung Raja Sultan Provinsi Bengkulu oleh Ketua Persaudaraan Perdamaian 202 negara dunia utusan Kementerian Dalam Negeri.

Keesokan harinya, pada Rabu 29 November 2017, beberapa raja yang dipimpin oleh Raja dari Kesultanan Palembang Darussalam akan mendatangi Kabupaten Kaur. Konon, menurut beberapa arkeolog, saat ini terdapat pilar dan beberapa situs peninggalan sejarah yang diduga sebagai tiang milik Kerajaan Sriwijaya.

“Sebagian raja saja yang ke sana, yang tidak ikut akan kita bawa berkeliling melakukan city tour wisata sejarah Kota Bengkulu,” ujar Effendi.

Pemerintah Provinsi Bengkulu yang sejak tahun 2016 sudah merancang tahun kunjungan wisata internasional atau visit Bengkulu Years 2020, saat ini tengah serius melakukan pembenahan dan persiapan di segala lini.

Salah satunya dengan melakukan penguatan akar budaya lokal sebagai daya tarik wisatawan jika berkunjung ke Bengkulu.

Ketua Komunitas Bencoolen Speaking Community Kota Bengkulu, Endang Indra Purnama mengatakan, budaya yang berkembang saat ini akan dirangkum dalam satu rangkaian literasi yang dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Pernik Baso Bengkulu”.

Rencananya, buku yang sudah mendapat legitimasi sebagai pegangan dalam bertutur kata tu akan diluncurkan pada 2 Desember mendatang. “Kita meletakkan dasar bertutur kata menggunakan bahasa Melayu pesisir,” ujar Endang.

Diakuinya, ada keragaman bahasa lain yang berkembang di Bengkulu, di antaranya bahasa Mukomuko, Pekal, Lembak, Bahasa Rejang, Enggano, dan Serawai.

Pernik Bahaso Bengkulu yang sudah dibukukan itu merupakan salah satu acuan bagi masyarakat dalam bertutur kata, khususnya masyarakat pesisir pantai Kota Bengkulu.

Di wilayah ini berkembang budaya Tabut yang setiap tahun dilakukan prosesi ritual mengenang pertempuran di Padang Karbala yang menewaskan cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein.

Selama sepuluh hari dari tanggal 1 hingga 10 Muharam, ritual Tabut ini juga dikemas dalam festival budaya oleh pemerintah Provinsi dan Kota Bengkulu yang dijadikan agenda nasional.

Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, mengaku terus berupaya melakukan perbaikan dalam melaksanakan ajang kebudayaan.

Sebab, seperti dilansir Liputan6.com, nilai jual selain potensi alam, Pariwisata Bengkulu juga akan memperkuat budaya lokal yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan di dunia.

“Kita pertahankan dan kemas sebaik mungkin menuju Visit Bengkulu Years 2020,” Rohidin menegaskan. (lip)

  Article "tagged" as:
  Categories: