Histori Tajur Menurut Cerita Rakyat ‘’Nyi Putri Lenggang Kencana’’

Histori Tajur Menurut Cerita Rakyat ‘’Nyi Putri Lenggang Kencana’’
October 02 14:07 2016 Print This Article

Rajasultan.com, Bogor – Laporan Adolf Winkler (1690) Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi “parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak (“de diepe dwarsgragt van Pakowang”) yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai.

Penduduk asli Bogor atau mereka yang sudah lama tinggal di kota ini tentunya sudah hapal dengan nama – nama pelosok kota termasuk nama – nama daerah yang sering di lalui, ada nama-nama daerah di Bogor yang ngetop karena memiliki ciri khas atau diidentikkan dengan sesuatu misalkan makanan, jembatan nama pohon atau lokasi dari tempat yang kramat dan unik atau juga dari jaman kerajaan.

Salah satunya adalah Tajur, sedikit sekali masyarakat yang mengetahui historis Tajur dan keberadaanya dan tentu orang tak akan percaya dalam perjalanannya Tajur merupakan daerah yg dikramatkan. Ada beberapa situs yang telah hilang atau lenyap karena ketidaktahuan akan sejarah peninggalan leluhurnya, ketidaktahuan akan batu- batu dan situs peninggalan leluhurnya pada jaman megalitikum ataupun pada situs-situs yang lebih muda umurnya,di samping itu kadang-kadang termusnahkan oleh kepercayaan lain yang menyalahkan jika memelihara situs peninggalan karuhun karena dianggap memuja-muja.

Satu di antaranya yaitu bekas kabuyutan yang terletak di lahan daerah Tajur berada persis di bawah bioskop galaksi terdapat batu menhir dan kuburan kuno yg bernama kuburan Nyi Putri nu Geulis Salenggang Pakuan ,beserta Telaga Kecil dan Pancuran (sekarang sudah jadi rumah/dapur) malah Batu Namprak(batu rata tempat duduk) sekitar tahun 1957 -an telah dihancurkan oleh penduduk untuk keperluan batu pondamen bangunan rumah

Daerah inilah yang oleh almarhum Saleh Danasasmita (penulis sejarah Bogor dan budayawan) yang di amanatkan kepada Eman Sulaeman (Penulis dan Ketua Yayasan Budaya Hanjuang Bodas Bogor) untuk diteliti tapi nasib kabuyutan dimaksud telah lenyap menghilang. “Geus lengit dangiangana lain ku urang lengitna tapi ku anu daratang teu wereh kana jati dirina” (ucapan sepuh Bogor artinya telah lenyap kekeramatanya bukan oleh kita tapi oleh pendatang yang telah kehilangan jati dirinya)

Tajur yang dalam cerita rakyat “Nyi Putri Lenggang Kencana” (karya M A Salman) adalah merupakan taman yang indah tempat bercengkerama Dayang dan Puteri Istana Pakuan Pajajaran yang kini telah lenyap.

Sebetulnya, tidak perlu terlalu jauh untuk menerka kenapa daerah itu dinamai Tajur, karena dalam bahasa Sunda buhun, Tajur memiliki arti ‘kebun’ atau ‘taman’. Tajur berarti kebun buah-buahan yang di bangun semasa pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maha Raja).

Saat ekspedisi seorang Belanda bernama Scipio dilakukan pada tahun 1687, Tajur adalah sebuah hutan tua dengan kontur tanah dan karakteristik pepohonannya menyerupai sebuah taman hingga diduga merupakan taman atau kebun yang dahulunya merupakan gerbang menuju pusat Kerajaan Pakuan.

Seperti kata Scipio dalam catatan harianya buah yang paling di senangi oleh Raja Pajaajaran adalah buah durian ketika scipio melakukan ekspedisi dalam rangka membuat peta wilayah dia menemui pohon durian yang berjejer di tepi jalan yang menuju Tajur Agung ,

Dahulu sekitar tahun 1579 dan tahun 1687 bahkan sampai tahun 1823 para peneliti bangsa Belanda seperti Scipio, Abraham Van Riebeeck sampai kepada Van Imhoof dan lain nya menyatakan keberadaan daerah Tajur ini. Mereka begitu peduli akan tanah jajahannya tetapi mereka tidak berani datang langsung kedaerah kebuyutan karena mereka menghargai kepercayaan yang di kramatkan penduduk, coba bayangkan dari Parung Angsana (Tanah Baru) apabila akan menuju daerah Batutulis mereka selalu berputar kearah Tajur dulu.

Menurut sejarahwan Alm. Saleh Danasasmita dalam bukunya Sejarah Bogor, dua catatan penting dari ekspedisi Scipio adalah :

• Catatan perjalanan antara Parung Angsana (Tanah Baru) menuju Cipaku dengan melalui Tajur, kira-kira lokasi Pabrik “Unitex” sekarang, berikut adalah salah satu bagian catatannya : “Jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku adalah lahan yang bersih dan di sana banyak sekali pohon buah-buahan, tampaknya pernah dihuni.”

• Lukisan jalan setelah ia melintasi Ci Liwung. Ia mencatat “Melewati dua buah jalan dengan pohon buah-buahan yang berderet lurus dan tiga buah runtuhan parit.” Dari anggota pasukannya, Scipio memperoleh penerangan bahwa semua itu peninggalan dari Raja Pajajaran.

Laporan Scipio menggugah para pimpinan Belanda. tiga tahun kemudian dibentuk kembali team ekspedisi dipimpin oleh Kapiten Winkler. pasukan Winkler terdiri dari 16 orang kulit putih dan 26 orang Makasar serta seorang ahli ukur.perjalanan ringkas ekspedisi Winkler adalah sebagai berikut :

•Seperti Scipio, Winkler bertolak dari Kedung Halang lewat Parung Angsana (Tanah Baru) lalu ke selatan. Ia melewati jalan besar yang oleh Scipio disebut “twee lanen”. hal ini tidak bertentangan. Winkler menyebutkan jalan tersebut sejajar dengan aliran Ciliwung lalu membentuk siku-siku. karena itu ia hanya mencatat satu jalan. Scipio menganggap jalan yang berbelok tajam ini sebagai dua jalan yang bertemu.

•Setelah melewati sungai Jambuluwuk (Cibalok) dan melintasi “parit Pakuan yang dalam dan berdinding tegak (“de diepe dwarsgragt van Pakowang”) yang tepinya membentang ke arah Ciliwung dan sampai ke jalan menuju arah tenggara 20 menit setelah arca. sepuluh menit kemudian (pukul 10.54) sampai di lokasi kampung Tajur Agung (waktu itu sudah tidak ada). satu menit kemudian, ia sampai ke pangkal jalan durian yang panjangnya hanya 2 menit perjalanan dengan berkuda santai.

Bila kembali ke catatan Scipio yang mengatakan bahwa jalan dan lahan antara Parung Angsana dengan Cipaku itu bersih dan di mana-mana penuh dengan pohon buah-buhan, maka dapat disimpulkan bahwa kompleks “Unitex” itu pada jaman Pajajaran merupakan “Kebun Kerajaan”.

Tajur adalah kata Sunda kuno yang berarti “tanam, tanaman atau kebun”. Tajur Agung sama artinya dengan “Kebon Gede atau Kebun Raya”. Sebagai kebun kerajaan Tajur Agung menjadi tempat bercengkerama keluarga kerajaan. karena itu pula penggal jalan pada bagian ini ditanami pohon durian pada kedua sisinya

Sebuah cuplikan sejarah yang agung dan mendeskripsikan betapa Tajur adalah sebuah wilayah yang penting dan memiliki pengaruh pada arah perkembangan kota ini hingga sekarang.Tajur kini ialah jalanan yang macet dan sesak terutama dipagi dan sore hari dan di diakhir pekan tentunya namun, sudah semestinya kita semua tidak melupakan sejarah bahwa Tajur adalah sebuah warisan sejarah yang teramat penting dan tidak boleh dilupakan.

Tajur adalah sepenggal sejarah kota Bogor yang telah melewati perjalanan yang panjang dan tercatat dalam sejarah kota ini dari zaman kerajaan Padjadjaran sampai kini saat kawasan ini tercatat sebagai salah satu destinasi paling populer di kota Bogor dan dikunjungi ribuan pelancong, khususnya di akhir pekan.

Tajur boleh dibilang muncul dari belakang dan merebut hati banyak orang dan menjadi salah satu icon Kota Hujan bukan karena sejarahnya, tapi konstelasi bisnis yang menggerakkan daerah itu menjadi tujuan wisata, khususnya wisata belanja.

Tentu saja ada masa yang dilewati daerah ini saat dulu bernama Desa Tajur masih satu desa dengan keluarahan pakuan dan masih wilayah Kabupaten (masuk wilayah Kotamadya tahun 1995 dan pisah dengan kelurahan pakuan ) yang sepi dan tidak menjadi tujuan utama mereka yang bepergian ke kota Bogor.

Menurut Lurah Tajur Yadi Ruyadi ,yang baru saja menjabat sekitar 6 bulan,Tajur sekarang memiliki luas wilayah kurang lebih 44 hektar dan mencakup 6 Rw dan 12 Rt dengan jumlah penduduk sekitar 11 ribuan lebih, demikian seperti disampaikan kepada Yan Dilaga dari Hallobogor.com (*)

  Article "tagged" as:
  Categories: