Sejak Zaman Kerajaan Ternate, Kampung Ini Jadi Tempat Melihat Hilal

Sejak Zaman Kerajaan Ternate, Kampung Ini Jadi Tempat Melihat Hilal
February 28 05:35 2016 Print This Article

BANYAK KISAH dan kepercayaan masyarakat lokal yang melingkupi Rua, sebuah kampung tua yang merupakan titik paling sempurna di Pulau Ternate untuk melihat hilal. Di kampung inilah, sejarah melihat hilal dilakukan sejak zaman Kerajaan Ternate.

Selepas Dhuhur, Malut Post (Grup INDOPOS) memulai perjalanan menuju Kampung Rua, Ternate. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk dapat mencapai kelurahan tersebut dari pusat Kecamatan Pulau Ternate. Seperti umumnya kampung-kampung yang terletak di Kecamatan Pulau Ternate, suasana Rua begitu tenang di siang hari. Hanya ada satu dua orang yang dapat ditemui di jalanan.

Suasana ini begitu berbeda dengan kondisi tiap jelang Ramadan. Pada H-2, hampir sepanjang jalan Kelurahan Rua dipenuhi oleh kendaraan roda empat dan roda dua. Titik keramaian terpusat di tepi Pantai Rua, tepatnya di belakang masjid induk kelurahan. Di titik inilah tempat puluhan teropong bintang dijejerkan jelang Ramadan dan Syawal.

Tujuannya tak lain untuk meneropong hilal atau bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam. Hilal menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam. “Sudah sejak dulu Rua dijadikan tempat untuk melihat hilal. Secara geografis, letaknya memang persis berhadapan dengan arah matahari tenggelam,” tutur Imam Masjid Rua, Hi. Sabtu Dero, kepada Malut Post belum lama ini.

Awalnya, hanya pihak Kesultanan Ternate yang melakukan pemantauan hilal di kelurahan yang memiliki 1.552 jiwa itu. Kemudian diikuti oleh sejumlah masjid di sekitar Rua. Saat ini, semua masjid di Kota Ternate turut melakukan pemantauan hilal di Rua. Begitu juga dengan Pemerintah Kota Ternate. “Jika pada hari pemantauan hilalnya belum terlihat, maka biasanya menunggu kabar dari pusat,” katanya.

Pemkot Ternate membangun sebuah bangunan berlantai dua berukuran 4×4 meter yang berfungsi sebagai menara rukyat. Bangunan tersebut didirikan tepat di belakang masjid induk. Sayang, sejak dibangun hingga kondisinya rusak seperti sekarang ini, bangunan tersebut kabarnya tak pernah difungsikan. Para petugas pemantau hilal lebih senang meneropong langsung dari pantai.

Pemkot kemudian membangun lagi bangunan yang sama fungsinya di daerah pegunungan, masih di Kelurahan Rua. Namun bangunan kedua ini pun hingga sekarang belum pernah difungsikan. “Orang-orang lebih suka mendirikan tenda dan memasang teropong mereka di atas pasir pantai ketimbang naik ke dalam bangunan itu,” ungkap salah satu warga.

Selain letaknya yang berhadapan dengan arah terbenamnya matahari, Rua juga memiliki sejarah panjang penyebaran Islam di Maluku Utara. Kisah yang diceritakan turun temurun di kampung ini, Rua merupakan tempat pertama kali Jafar Sadik menginjakkan kakinya di Pulau Ternate. Dalam dokumen mengenai sejarah dituliskan bahwa Jafar Sadik adalah orang Arab keturunan Ali bin Abi Thalib yang datang ke Ternate untuk menyebarkan Islam. Ia diperintahkan untuk menyebarkan Islam di tempat di mana matahari terbit.

“Beliau datang ke sini menumpangi perahu kora-kora untuk menyebarkan Islam. Namun kedatangannya di Rua disambut dengan lantunan azan. Hal ini membuat Jafar Sadik heran, sebab ternyata Islam sudah ada di Maluku Utara jauh sebelum kedatangannya,” kisah Sabtu.

Dituliskan pula dalam sejarah, pada suatu hari Jafar Sadik melihat tujuh putri dari kayangan yang tengah mandi di telaga. Jafar lantas menyembunyikan selendang milik salah satu putri tersebut. Alhasil, sang pemilik selendang, Nursifa, tak bisa kembali ke kayangan. Ia kemudian menikah dengan Jafar Sadik dan dikaruniai empat orang anak yang kemudian menjadi raja di empat kerajaan (Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) yang menjadi cikal bakal nama Moloku Kie Raha.

Tak ada yang tahu pasti keautentikan kisah yang telah menjadi semacam dongeng ini, namun tempat mandi para putri itu diyakini oleh warga Rua di sebuah mata air yang kini diberi nama Akesibu. Pemandian ini kini telah menjadi pemandian umum yang terletak tepat dipinggir jalan raya kelurahan. “Dulu Akesibu dijaga oleh orang-orang tua kami sehingga tidak sembarang orang boleh mandi di situ. Kami menyebut tempat itu sebagai airnya sultan,” sambung Sabtu yang telah 15 tahun menjadi imam itu.

Rua sendiri merupakan kampung yang diistimewakan Kesultanan Ternate. Rua adalah satu dari sedikit kampung di mana mendiang Sultan Ternate Mudaffar Sjah tidak bisa ditandu ketika berada di dalamnya. Setiap kali berkunjung ke Rua, sang sultan harus berjalan kaki. Berbeda dengan kunjungannya ke kampung-kampung lain di mana sultan ke-49 itu harus selalu ditandu oleh masyarakat adat. “Dalam bahasa orang tua-tua (para leluhur, red), Rua itu pangkat anaknya ke mendiang Sultan. Saya juga tidak terlalu paham bagaimana garis turunannya, namun ini dibuktikan dengan tidak pernah ditandunya Sultan ketika berada di Rua. Begitu juga ketika ada acara-acara adat di kedaton, Rua harus selalu diberitahu terlebih dahulu,” lanjut Sabtu.

Kedekatan Rua dengan pihak Kesultanan juga ditandai dengan ziarah rutin yang dilakukan Sultan di sebuah jere (makam keramat, red) yang ada di Rua. Makam ini terletak di kedalaman laut di dekat Pantai Akesibu yang berbentuk teluk. Oleh warga setempat, ia biasa disebut doro. Tiap helatan Legu Gam (pesta rakyat tahunan untuk memperingati ulang tahun Sultan, red) digelar, terdapat sebuah prosesi adat yang disebut kololi kie mote ngolo (keliling gunung lewat laut).

Pada prosesi tersebut, salah satu titik pemberhentian adalah di jere Rua tersebut. “Di situ, perahu-perahu harus mengelilingi doro tiga kali sambil menaburkan bunga sebelum bisa berlabuh ke pantai. Itu sekaligus ziarahnya Sultan. Jere ini diyakini memiliki hubungan dekat dengan Kesultanan, selain jere Baabullah di Foramadiahi yang merupakan makam leluhur Sultan sendiri,” jabar Sabtu.

Doro bukan satu-satunya jere di Rua. Kelurahan yang terdiri atas 382 Kepala Keluarga (KK) ini memiliki sekitar tujuh buah jere lainnya di wilayah lereng Gunung Gamalama, dan satu jere yang terletak di dalam perkampungan. Satu-satunya jere di tengah perkampungan itu disebut jere Galala. Warga meyakini pemilik jere ini adalah seorang perempuan, sehingga makam ini juga dikenal dengan sebutan jere Perempuan. “Orang-orang percaya, bahwa pasangan yang kesulitan memperoleh anak perempuan akan dimudahkan jika berziarah ke sini,” ungkap Wanisai, pemilik rumah yang tepat bersebelahan dengan jere Galala.

Wanisai mengungkapkan bahwa sejak mendirikan rumah di samping jere pada 2009 lalu, ia dan keluarganya tak pernah mengalami kejadian aneh. Hal aneh justru dialami oleh salah satu bibinya yang menginap di rumah mereka. “Ketika nginap di sini, bibi saya bermimpi ada perempuan cantik mengenakan kebaya dan berkonde datang mencarinya dan hendak mencekiknya. Awalnya kami bingung mengapa ada kejadian seperti itu. Ternyata setelah ditelusuri, bibi itu sedang mempelajari ilmu-ilmu yang tidak baik (ilmu hitam, red). Tampaknya ia (pemilik jere, red) tidak suka dengan hal-hal yang seperti itu,” tuturnya.

Nama Rua sendiri merupakan kepanjangan dari kalimat Raudhatul Ulama Annur yang dapat diartikan sebagai taman para ulama yang bercahaya. Nama tersebut telah ada semenjak kampung ini berdiri. Konon, nama ini berasal dari peristiwa jatuhnya cahaya dari langit yang menyinari lokasi yang saat ini menjadi lokasi berdirinya masjid induk. Masjid ini juga memiliki nama yang sama dengan nama kampung. “Jadi nama Rua bukan berasal dari bahasa Ternate, tapi dari bahasa Arab. Inilah yang menguatkan keyakinan kami bahwa Islam di Indonesia mula-mula berasal timur,” papar Sabtu, seperti dikutip Indopos.co.id.(kai)
_________

WARISAN BUDAYA NUSANTARA ~ Jika ada kegiatan, peristiwa, dan artikel seputar budaya nusantara (terkait dengan kerajaan, kesultanan, kedaton, kisah legenda, atau heritage warisan budaya) yang ingin dipublikasikan di media ini, kirim saja ke redaksi kami, via Email : hallowredaksi@gmail.com, atau wa : 081915557788, terima kasih ~ Rajasultan.com

  Article "tagged" as:
  Categories: