Tradisi “Timba Laor” Diawali dengan Prosesi Adat Raja Latuhalat dan Saniri

Tradisi “Timba Laor” Diawali dengan Prosesi Adat Raja Latuhalat dan Saniri
March 27 09:54 2016 Print This Article

PESTA BUDAYA “Timba Laor” atau menangkap cacing laut (Lyde Oele) secara beramai-ramai akan dijadikan ikon wisata Kota Ambon.

“Kita bertekad kegiatan Timba Laor akan dikemas secara proporsional dan dijadikan ikon wisata Kota Ambon, untuk mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara,” kata Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, saat Pesta Timba Laor di Ambon, Sabtu (27/3/2016).

Ia mengatakan, tradisi itu terus dilestarikan hingga kini di kawasan pesisir Nusaniwe dan Leitimur Selatan dan munculnya laor juga dipengaruhi siklus bulan dan matahari pada Maret atau April dan muncul hanya setahun sekali.

“Laor merupakan perisiwa alam yang langka dan unik karena pelaksanaanya bersamaan dengan perayaan Jumat Agung. Tradisi ini merupakan berkat alam yang luar biasa dan telah dikenal sejak ratusan tahun lalu,” katanya.

Menurut Richard, kegiatan Timba Laor di Indonesia hanya dilakukan di dua provinsi yakni Maluku dan Nusa Tenggara Barat (NTB) Kota Mataram.

“Di Mataram budaya Timba Laor yang disebut Nyale dilakukan setiap tahun dan menjadi atraksi budaya masyarakat setempat dan para wisatawan, sementara Maluku khususnya Ambon hanya dilakukan masyarakat setempat,” ujarnya.

Provinsi NTB khsusunya Mataram mengemas kegiatan ini dengan baik, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

“Kita ke depan harus menjadikan tradisi Timba Laor ikon yang dapat dijual untuk kepentingan Maluku khususnya kota Ambon dan harus dipromosikan dalam agenda pariwisata menjadi paket religius alternatif para wisatawan,” katanya.

Diakuinya, pesta budaya Timba Laor harus dikemas dalam bentuk seni, pertunjukan dan kuliner khas berbahan dasar cacing laor, sehingga menarik untuk dinikmati masyarakat dan wisatawan.

Tradisi ini juga diawali prosesi adat dari Raja Latuhalat dan Saniri, hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri jika dikemas dengan baik.

“Tradisi ini setelah menimba atau menangkap cacing laor beramai-ramai, maka warga secara berkelompok langsung memasak hasil tangkapannya dalam berbagai menun untuk disajikan dan dimakan bersama-sama,” katanya.

Laor adalah sejenis cacing laut dalam bahasa ilmiahnya Lycde Oele dan dari kelas Polychaeta Filum Analida, biasanya muncul saat purnama pasang tertinggi dan hanya muncul di daerah pantai berkarang.

Biota tersebut khas dan digemari oleh masyarakat Maluku karena kandungan protein yang lebih tinggi daripada ikan dan dapat diolah menjadi masakan tradisional dengan rasa gurih.

Musim panen laor sesungguhnya merupakan waktu kemunculan cacing dengan panjang 3-5 centimeter untuk melakukan pemijahan (spawning time). Demikian seperti dikutip Antaranews.com. (red)
_________

WARISAN BUDAYA NUSANTARA ~ Jika ada kegiatan, peristiwa, dan artikel seputar budaya nusantara (terkait dengan kerajaan, kesultanan, kedaton, kisah legenda, atau heritage warisan budaya) yang ingin dipublikasikan di media ini, kirim saja ke redaksi kami, via Email : hallowredaksi@gmail.com, atau wa : 081915557788, terima kasih ~ Rajasultan.com

  Article "tagged" as:
  Categories: